ASKEB (AKSEPTOR KB AKDR)


BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Dalam kurun waktu tiga dasawarsa, Program KB Nasional telah mencapai keberhasilan yang cukup menggembirakan. Hal ini ditandai dengan semakin diterimanya norma keluarga sebagai bagian dari tata kehidupan masyarakat yang tercermin dari semakin meningkatnya angka kesertaan ber-KB, mengecilnya rata-rata jumlah anak yang dimiliki keluarga, menurunnya angka kematian ibu, bayi, dan anak, serta menurunnya angka pertumbuhan penduduk. Berdasarkan hasil sensus penduduk 1990 dan 2000 jumlah penduduk Indonesia adalah sebesar 179,4 Juta (1990) dan 206,2 juta jiwa (2000), dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% pada periode 1990 – 2000 atau lebih rendah dari laju pertumbuhan penduduk periode 1970 – 1980 (2,32%) dan periode 1980 – 1990 (1,97%).
Tahun 1990 – 1991, Departemen Kesehatan dibantu WHO, UNICEF, dan UNDP melaksanakan assesment safe motherhood. Suatu hasil dari kegiatan ini adalah Rekomendasi Rencana Kegiatan Lima Tahun. Departemen kesehatan menerapkan rekomendasi tersebut dalam bentuk strategi operasional untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI). Sasarannya adalah menurunkan AKI dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada 1986, menjadi 225 pada tahun 2000.
Masalah kematian ibu adalah masalah yang  kompleks, meliputi hal-hal nonteknis seperti status wanita dan pendidikan. Walaupun masalah tersebut perlu diperbaiki sejak awal, namun kurang realistis bila mengharapkan perubahan drastis dalam tempo singkat.
Upaya        safe motherhood dinyatakan sebagai empat pilar safe mohterhood, salah satunya adalah Keluarga berencana, yang memastikan bahwa setiap orang/pasangan mempunyai akses keinformasi dan pelayanan KB agar dapat merencanakan waktu yang tepat untuk kehamilan jarak kehamilan dan jumlah anak.
Keluarga berencana merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi. Keluarga berencana tidak dapat menjamin kesehatan ibu dan anak, tetapi dengan melindungi keluarga terhadap kehamilan resiko tinggi, KB dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesehatan.
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah salah satu alat kontrasepsi berjangka panjang dan efektif untuk menjarangkan kelahiran anak. (10 Tahun Proteksi dari CUT-380A dan tidak perlu diganti). (Saifudin, 2003).
Di Indonesia telah banyak di coba AKDR seperti spiral margulis, lippes loop, AKDR M (Metal) dengan  hasil yang baik. Kemudian dikembangkan kembali AKDR yang mengandung CU atau hormonal diantaranya seven cupper, multilood, cupper T380, medosa dan progestasert (AKDR dengan progesteron) BKKBN menggunakan cupper T380A sebagai standar yang digunakan (Manuaba, 1998).
Pada penelitian ini akseptor KB AKDR yang akan dilihat berdasarkan usia, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian, dan  keluhan yang dialami.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Keluarga Bererncana Nasional (BKKBN) Propinsi Lampung Tahun 2005, jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di Propinsi Lampung tercatat sebesar 1.344.747 orang dan yang menjadi peserta KB aktif sebesar 937.841 orang (70,6%). Dari peserta KB aktif tersebut yang menggunakan AKDR sebanyak 124.834 orang (9,42%). Pada tahun yang sama jumlah PUS di Kota Metro sebesar 24.279 orang yang terdiri dari 17.685 orang (72,84%) peserta KB aktif dan 6.594 orang (27,15%) yang tidak mengikuti KB. Dari peserta KB aktif tersebut yang menggunakan AKDR sebanyak 2.589 orang (14,63%).
Berdasarkan data dari PLKB Metro tahun 2007 jumlah PUS di Kecamatan Metro Pusat sebesar 8.052 dengan jumlah KB yang aktif menggunakan alat kontrasepsi suntik sebesar 2.779 (48%) peserta, pil sebesar 1.314 (23%) peserta, IUD sebesar 906 (15,5%) peserta, Implant sebesar 580 (9,9%) peserta, MOW sebesar 185 (3,2%) peserta, kondom sebesar 48 (0,8%) peserta, MOP sebesar 21 (0,4%) peserta.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Gambaran Akseptor KB AKDR di Kecamatan Metro Pusat Tahun 2008 karena KB AKDR merupakan alat kontrasepsi terpilih.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka penulis membuat rumusan masalah yaitu : “Bagaimana Gambaran Akseptor KB AKDR Kecamatan Metro Pusat Tahun 2008”.

C.     Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Diketahuinya gambaran tentang Akseptor KB AKDR di Kecamatan Metro Pusat.
2.      Tujuan Khusus
a.       Diketahuinya gambaran akseptor KB AKDR berdasarkan usia, paritas, pekerjaan, pendidikan, dan ekonomi.
b.       Diketahui gambaran akseptor KB AKDR berdasarkan lama pemakaian
c.       Diketahui pengetahuan akseptor KB AKDR berdasarkan keluhan yang dirasakan.


D.    Ruang Lingkup
Dalam melakukan penelitian, agar sesuai dengan rumusan masalah yang dibuat penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1.      Jenis Penelitian        :  Deskriptif
2.      Subyek Penelitian   :  Akseptor KB AKDR di Kecamatan Metro Pusat
3.      Objek Penelitian     :  Gambaran Akseptor KB AKDR
4.      Lokasi Peneliti        :  Kecamatan Metro Pusat
5.      Waktu Penelitian     :  Setelah proposal disetujui
6.      Alasan Penelitian     :  Peneliti memilih Akseptor KB AKDR di Kecamatan Metro Pusat karena AKDR merupakan alat kontrasepsi terpilih.

E.     Manfaat Penelitian
1.      Bagi Peneliti
Sebagai penerapan ilmu dan teori yang sudah didapatkan dari pendidikan dan menambah wawasan serta pengalaman mengenai gambaran Akseptor KB AKDR.
2.      Bagi Institusi Kebidanan Wira Buana
Hasil Penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dan masukan untuk memperluas wawasan mahasiswa jurusan kebidanan.
3.      Bagi Akseptor KB
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang KB terutama KB AKDR.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.     Telaah Pustaka
1.      Gambaran Akseptor AKDR
Pada penelitian ini gambaran akseptor KB AKDR yang akan dilihat berdasarkan usia, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian dan keluhan yang dialami.
a.       Usia
Menurut Depdikbud (1998), yang dimaksud dengan usia adalah lamanya hidup seseorang yang dihitung dari kelahiran sampai dengan saat ini. Usia mempengaruhi akseptor dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dari usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang dari 20  tahun fase menunda kehamilan, usia 20-30 tahun fase  menjarangkan kehamilan, usia 30 fase mengakhiri kesuburan dan disini dianjurkan pada akseptor untuk menggunakan kontrasepsi AKDR karena AKDR bisa digunakan untuk menunda kehamilan (Hartanto, 2003).

b.      Paritas
Menurut Depdikbud. (1998), yang dimaksud dengan paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dimiliki seorang wanita. Berdasarkan pengertian tersebut, maka paritas mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi sesuai dengan penggunaan kontrasepsi rasional yaitu fase menunda kehamilan pada usia < 20 tahun atau primipara, fase menjarangkan kehamilan pada usia 20 – 30 tahun atau multipara dan fase mengakhiri kesuburan pada usia di atas 30 tahun atau disebut grande multipara. Oleh karena itu akseptor dengan jumlah anak sudah 2 orang dianjurkan untuk memakai AKDR, karena AKDR dapat mencegah kehamilan selama 10 tahun (Hartanto, 2003).

Pekerjaan
Menurut Depdikbud (1998), pekerjaan adalah suatu hal yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah atau pokok penghasilan. Pekerjaan adalah kegiatan sehari-hari yang digunakan sebagai sumber mata pencaharian untuk menghasilkan pendapatan berupa uang yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang ditekuni akseptor. Jenis pekerjaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Jenis Pekerjaan Pegawai Negeri Sipil
Yaitu pekerjaan di suatu departemen pemerintah dan memperoleh segala fasilitas negara seperti Departemen Dalam Negeri.
Jenis Pekerjaan Tani
Merupakan pekerjaan bercocok tanam baik dilokasi milik sendiri ataupun milik orang lain yang hasilnya didapat dari produksi tanamannya.
Jenis Pekerjaan Buruh
Merupakan pekerjaan yang mengandalkan tenaga kepada orang lain untuk mendapatkan hasil dari jasa tenaga yang telah dilakukan.
Jenis Pekerjaan Dagang
Merupakan pekerjaan menjual barang yang telah dibelinya untuk mendapatkan keuntungan sebagai hasil usahanya.

Tingkat Pendidikan
Menurut Depdikbud (1998), pendidikan adalah proses perubahan sikap perilaku seseorang atau kelompok orang dalam mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Pada penelitian ini pengukuran variabel tingkat pendidikan dapat digolongkan berdasarkan undang-undang Republik Indonesia tentang sistem pendidikan nasional tahun 2003 yaitu : SD, SMP, SMA, Pendidikan Tinggi (Dep Dikbud, 1998). Berdasarkan pengertian tersebut maka tingkat pendidikan yang lebih tinggi di harapkan akseptor lebih memilih kontrasepsi yang efektif salah satunya AKDR.

c.       Tingkat Ekonomi
Ekonomi adalah segala kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Ekonomi berarti cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdikbud, 1998). Berdasarkan pengertian tersebut maka tingkat ekonomi seseorang dapat mempengaruhi karena semakin tinggi tingkat ekonomi semakin banyak waktu dan kesempatan untuk melakukan perawatan terhadap diri sendiri.
Rendahnya penghasilan keluarga memberi kemungkinan pemeliharaan kesehatan tidak menjadi prioritas, karena prioritas lebih tinggi pada kebutuhan pokok sehingga menyebabkan terabainya penggunaan alat kontrasepsi. Penggolongan tingkat kemampuan ekonomi dilihat dari pendapatan tiap bulan, dari Susenas Badan Pusat Statistik Metro 2007, penggolongan tingkat ekonomi adalah:
a.       Rendah (di bawah Rp. 750.000,-)/ bulan
b.      Sedang (antara Rp. 750.000 – Rp. 1.400.000,-)/bulan.
c.       Tinggi (di atas Rp. 1.400.000,-)/bulan

2.      Pengertian Akseptor
Pengertian akseptor menurut Depdikbud (1998), adalah orang yang menerima serta mengikuti (melaksanakan) program keluarga berencana.

3.      Pengertian Keluarga Berencana
Definisi Keluarga Berencana menurut Hartanto (2003), dapat diartikan sebagai tindakan yang membantu pasangan individu atau pasangan suami isteri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval di antara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami isteri dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Dari definisi di atas penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Keluarga Berencana adalah upaya manusia dalam mengatur atau menjarangkan kehamilan.


4.      Tujuan Keluarga Berencana
Menurut Mochtar (1998), tujuan keluarga berencana ada dua yaitu :
a.      Tujuan Umum Keluarga Berencana
Tujuannya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara mengatur kelahiran anak, supaya diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

b.     Tujuan Khusus Keluarga Berencana
Tujuannya adalah menurunkan angka kelahiran.

5.      Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)
Salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang digunakan oleh masyarakat adalah AKDR, untuk memahami tentang AKDR berikut ini akan dibahas tentang pengertian AKDR, jenis AKDR, mekanisme kerja, efektivitas, indikasi pemasangan, kontra indikasi, keuntungan, kerugian, pemasangan AKDR, periksa ulang AKDR, efek samping dan komplikasi serta pengeluaran AKDR.
a.       Pengertian AKDR
AKDR adalah bahan inert sintetik (dengan atau tanpa unsur tambahan untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk dipasangkan ke dalam rongga rahim untuk menghasilkan efek kontraseptif. (Saifuddin, 2003)
b.      Jenis AKDR
Menurut Mochtar (1998), saat ini AKDR telah memasuki era generasi keempat, karena itu berpuluh macam AKDR telah dikembangkan mulai dari generasi pertama yang terbuat dari benang sutera dan logam sampai pada generasi plastik (polietilen) baik yang tidak ditambahi obat (unmedicated) maupun yang dibubuhi obat (Medicated).
1)      Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi :
a)      Bentuk terbuka (open device), misalnya lippes loop, Cu-T, Cu-7, Margulies, Spring coil, multiload, Nova – T dan lainnya.
b)      Bentuk tertutup (closed device), misalnya ota ring, antigen, grafenberg ring, hall stone ring.
2)      Menurut tambahan obat atau metal :
a)      Medicated AKDR, misalnya Cu-T 200, 220, 300, 380A, Cu-7, Nova-T Ml-Cu 250, 375, progestasert.
b)      Unmedicated AKDR, misalnya lippes loop, margulies, saf-T coil, antigon. AKDR yang banyak di pakai di Indonesia dewasa ini dari jenis unmedicated adalah lippes loop dan yang dari jenis medicated Cu-T, Cu-7 multiload, dan Nova-T.


c.       Jenis AKDR
Menurut Hartanto (2003), mekanisme kerja AKDR adalah :
1)      Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah di buahi terganggu. Disamping itu dengan munculnya lekosit PMN, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst.
2)      Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
3)      Gangguan atau terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam endometrium.
4)      Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba falopii.
5)      Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
6)      Dari penelitian-penelitian terakhir disangka bahwa AKDR juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilitas).
7)      Untuk AKDR yang mengandung Cu :
a)      Antagonisme yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim carbonic anhydrase, sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase.
b)      Mengganggu pengambilan estrogen endogenelis oleh mucosa uterus.
c)      Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.
d)      Mengganggu metabolisme glikogen.
8)      Untuk AKDR yang mengandung hormon progesteron :
a)      Gangguan proses pematangan proliferatif-skretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi (Endometrium tetap berada dalam fase decidual atau progestational).
b)      Lendir serviks yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin.
Dari uraian di atas, maka AKDR tampaknya tidak mencegah ovulasi dan menggangu corpus luteum.
d.      Efektifitas AKDR
Menurut Mochtar (1998), efektifitas AKDR cukup tinggi untuk mencegah kehamilan dalam jangka waktu yang lama. Angka kehamilan AKDR berkisar antara 1,5 – 3 per 100 wanita pada tahun pertama dan angka ini akan menjadi lebih rendah untuk tahun – tahun berikutnya.
Hartanto (2003), mengemukakan tentang efektifitas AKDR yaitu :
1)     Efektifitas dari AKDR dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuit on rate) yaitu berupa lama AKDR tetap tinggal in-utero tanpa ekspulsi spontan, terjadinya kehamilan dan pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi.
2)     Efektifitas dari bermacam-macam AKDR tergantung pada : AKDR nya yaitu ukuran bentuk, mengandung Cu atau progesteron dan akseptor yaitu umur, paritas dan frekuensi senggama.
3)     Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :
a)      Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR.
b)      Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan atau pengeluaran AKDR.
4)     Dari uraian di atas maka use-effectiveness dari AKDR tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis termasuk kemudahan insersi pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi, kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.

e.       Indikasi Pemasangan AKDR
Menurut Mochtar (1998), pemasangan AKDR untuk tujuan kontrasepsi dapat dilakukan pada wanita yang :
1)     Telah mempunyai anak hidup satu atau lebih.
2)     Ingin menjarangkan kehamilan.
3)     Sudah cukup anak hidup, tidak mau hamil lagi, namun takut atau menolak cara permanen (kontrasepsi mantap).
4)     Tidak boleh atau tidak cocok memakai kontrasepsi hormonal (menghidap penyakit jantung, hipertensi, hati).
5)     Berusia di atas 35 tahun, dimana kontrasepsi hormonal dapat kurang menguntungkan.

f.        Kontra Indikasi
Menurut Saifuddin (2003), yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR :
1)     Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil).
Perdarahan vagina yang tidak diketahui.
Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis).
Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik.
Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri.
Penyakit trofoblas yang ganas.
Diketahui menderita TBC pelvik.
Kanker alat genital.
Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm.
Keuntungan AKDR
Menurut Saifuddin (2003), keuntungan AKDR meliputi :
Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi 0,6 - 0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
1)          AKDR dapat efektif segera setelah persalinan.
2)          Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu di ganti).
3)          Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.
4)          Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil.
5)          Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A.
6)          Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.
7)          Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
8)          Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
9)          Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
10)      Membantu mencegah kehamilan ektopik.

g.       Kerugian AKDR
AKDR bukanlah alat kontrasepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian. Kerugian AKDR menurut Manuaba (2002) :
1)     Masih terjadi kehamilan dengan AKDR insitu.
2)     Terdapat perdarahan, spothing dan menometroragia.
3)     Leukore, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa lebih basah.
4)     Dapat terjadi infeksi dan kehamilan ektopik.
5)     Tali AKDR dapat mengganggu hubungan seksual.
h.       Pemasangan AKDR
Saifuddin (2003), mengemukakan bahwa sebagian besar masalah yang berkaitan dengan AKDR (ekspulsi infeksi dan perforasi) disebabkan oleh pemasangan yang kurang tepat. Oleh karena itu hanya petugas klinik yang telah dilatih (dokter, bidan dan perawat), yang diperbolehkan memasang maupun mencabut AKDR, untuk mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan semua tahap proses pemasangan harus dilakukan dengan hati-hati dan lembut, dengan menggunakan upaya pencegahan infeksi yang dianjurkan.
Waktu pemasangan AKDR yang baik adalah dalam keadaan :
1)      Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien tidak hamil.
2)      Hari pertama sampai ke-7 siklus haid.
3)      Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenore laktasi (MAL). Perlu diingat angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pasca persalinan.
4)      Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari ) apabila tidak ada gejala infeksi.
5)      Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.


i.         Periksa Ulang AKDR
Menurut Manuaba (2002), menyatakan jadwal pemeriksaan ulang AKDR sebagai berikut :
1)     Dua minggu setelah pemasangan.
2)     Satu bulan setelah pemeriksaan pertama.
3)     Tiga bulan setelah pemeriksaan kedua.
4)     Setiap 6 bulan sampai 1 tahun.

j.        Efek samping dan komplikasi
Menurut Mochtar (1998), efek samping dari penggunaan AKDR adalah :
1)      Nyeri dan mulas
Biasanya terjadi sehabis insersi AKDR, yang pada umumnya akan hilang dalam beberapa hari sampai beberapa minggu.
2)      Perdarahan
Dapat terjadi perdarahan pasca insersi, bercak di luar haid (spotting) atau perdarahan meno atau metroragia.
3)      Fluor Albus (keputihan).
4)      Dismenorea (Nyeri selama haid).
5)      Disparenia (Nyeri sewaktu koitus).
6)      Ekspulsi (AKDR keluar dengan sendirinya)
Sering dijumpai pada masa tiga bulan pertama setelah insersi, setelah satu tahun angka ekspulsi akan berkurang. Biasanya terjadi sewaktu sedang haid.
7)      Infeksi
Radang panggul dijumpai pada sekitar 2% akseptor pada tahun pertama pemakaian, namun infeksi ini bersifat ringan.
8)      Embedment (AKDR tertanam dalam dinding rahim).
9)      AKDR dapat tertanam ke dalam mukosa rahim atau terletak lebih dalam sebagian (parsial) atau seluruhnya (komplit).

k.      Pengeluaran AKDR
Menurut Mochtar (1998), pengeluaran AKDR dilakukan atas berbagai indikasi :
1)     Indikasi medis :
a)      Perdarahan yang hebat atau berlangsung lama.
b)      Nyeri hebat.
c)      Hamil dengan AKDR insitu.
d)      Peradangan panggul.
e)      Infeksi dan sebagainya.
2)     Atas permintaan suami isteri.
3)     AKDR telah kadaluarsa.
4)     Translokasi AKDR.
5)     Tukar atau pindah cara kontrasepsi lain.


B.     Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati, atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005).
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, maka kerangka konsep penelitian ini adalah:
             Variabel Independen                                              Variabel Dependen     





Text Box: - Usia 
- Paritas 
- Pekerjaan 
- Tingkat Pendidikan 
- Tingkat Ekonomi 
- Lama Pemakaian 
- Keluhan yang Dialami


Text Box: Akseptor AKDR

 



Gambar 1.  Kerangka Konsep Penelitian

C.     Definisi Operasional Variabel
Menurut Notoatmodjo (2005), definisi operasional sangat diperlukan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau diteliti.


Tabel 2. Definisi Operasional

No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala

1
Akseptor KB AKDR
 Seorang ibu yang menggunakan metode KB AKDR untuk mencegah atau mengatur kehamilan




2.
Usia
Umur responden dihitung dari kelahiran sampai dengan saat penelitian
Angket
Kuesioner
< 20 tahun
20-30 tahun
> 30 tahun
Ordinal

3.
Paritas
Jumlah kelahiran hidup yang dimiliki seorang ibu sampai saat dilakukan penelitian
Angket
Kuesioner
a.   < 1
b.   2 – 3
c.   > 3
Ordinal
5
Pekerjaan
Mata pencaharian sehari-hari yang menghasilkan pendapatan berupa uang yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup yang ditekuni responden
Angket
Kuesioner
a.    PNS
b.   Tani
c.    Buruh
d.   Dagang

Nominal
4
Tingkat   pendidikan
Jenjang pendidikan formal yang  terakhir ditempuh oleh ibu sampai  saat dilakukan penelitian

Angket
Kuesioner
a.    SD
b.   SMP
c.    SMA
d.   Perguruan Tinggi  
Ordinal
5
Tingkat Ekonomi
Penghasilan rata-rata yang diperoleh keluarga perbulan
Angket
Kuesioner
Penghasilan tiap bulan termasuk kategori :













Rendah < Rp. 750.000
Sedang Rp.750.000 -Rp. 1.400.000
 Tinggi   > Rp.1.400.000
Ordinal

6
Lama Pemakaian
Ibu yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR dalam waktu tertentu
Angket
Kuesioner
a.   Baru pertama kali menggunakan
b.   Responden menggunakan AKDR sampai batas waktu dan selanjutnya responden  menggunakan lagi
c.   Sudah pernah menggunakan,  hamil, kemudian melahirkan setelah itu menggunakan lagi
Nominal









7
Keluhan yang dirasakan
Ibu yang mengalami ataumerasakan sesuatu yang membuat tidak nyaman selama memakai AKDR
Angket
Kuesioner
a.  Nyeri dan mulas
b. Pedarahan
c.  Keputihan
d. Nyeri selama haid
e.  Nyeri waktu koitus
f.  Ekspulsi



BAB III
METODE PENELITIAN

A.     Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. (Notoatmodjo, 2005). Dalam penelitian ini, peneliti bermaksud menggambarkan bagaimana gambaran akseptor KB AKDR, dilihat dari usia, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian dan keluhan yang dialami.

B.     Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2005) yang  menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB AKDR di Kecamatan Metro Pusat yang berjumlah 906 orang.

  1. Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005).

Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang menggunakan alat kontrasepsi AKDR yang berjumlah 277 orang dengan menggunakan rumus :

Untuk memperoleh sampel yang diinginkan maka teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling, yaitu cara pengambilan dengan cara acak sederhana, dengan cara undian (Notoatmodjo, 2005)

C.     Variabel Penelitian
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain (Notoatmodjo, 2005).
Dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu :
  1. Variabel dependen        :   Gambaran akseptor KB AKDR
2.      Variabel independen.    :   Usia, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian dan keluhan yang dialami.

D.    Instrumen dan Cara Pengumpulan Data
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data (Notoatmodjo, 2005). Pada penelitian ini penulis menggunakan insturmen berupa kuesioner dan dokumentasi yang berkaitan dengan gambaran akseptor KB AKDR di Kecamatan  Metro Pusat tahun 2008.
1.      Kuesioner
Pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan kepada responden serta jawaban yang telah disediakan (Responden memilih jawaban). Kuesioner yang digunakan pada pengumpulan data ini adalah kuesioner untuk akseptor KB AKDR dilihat dari  usia akseptor, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian dan keluhan yang dialami dengan cara dikelompokkan.  

2.      Dokumentasi
Dokumentasi dari asal kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku, majalah, dokumen. Catatan harian dan sebagainya (Arikunto, 2006).  Dalam penelitian ini dokumentasi yang peneliti gunakan adalah berupa buku register yang disebut F.2.


3.      Pengumpulan Data
Setelah peneliti melihat data dari dokumentasi kemudian peneliti mengunjungi rumah-rumah akseptor KB AKDR untuk memberikan kuesioner.

E.     Analisis Data
Setelah data yang diperlukan dalam penelitian ini terkumpul, maka dilakukan tahap pengelolaan data melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1.      Editing
Pada tahap ini penulis melakukan penilaian terhadap data yang diperoleh kemudian diteliti apakah cara pengisiannya sudah benar atau belum.
2.      Coding
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam menentukan analisis data.
3.      Tabulating
Jawaban-jawaban dari responden di kelompokkan menurut golongan yang sama dan dimasukkan dalam tabel.
4.      Teknik analisis data
Untuk menghitung distribusi frekuensi kategori gambaran digunakan rumus sebagai berikut :


Keterangan :
P            =    Persentasi
F            =    Frekuensi
N           =    Jumlah keseluruhan responden
100%     =    Konstansa. (Eko Budiarto, 2002)

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A.     Gambaran Umum Puskesmas Yosomulyo
1.        Keadaan Geografi
Kelurahan Yosomulyo terletak di wilayah kecamatan Metro Pusat Kota Metro dengan luas wilayah 337 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut:
a.       Sebelah Utara berbatasan dengan kelurahan Karang Rejo
b.      Sebelah Selatan berbatasan dengan kelurahan Yosodadi Kecamatan Metro Timur
c.       Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Yosorejo Kecamatan Metro Timur di Kelurahan Imopuro serta Hadimulyo Kecamatan Metro Pusat
d.      Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Adirejo Kabupaten Lampung Timur.

Wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo dibagi menjadi 3 yaitu, Yosomulyo, Hadimulyo Timur, Hadimulyo Barat yang terbagi dengan luas wilayah masing-masing adalah Yosomulyo dengan luas wilayah 337 km2, Hadimulyo Timur dengan luas wilayah 3,37 km2, Hadimulyo Barat dengan luas wilayah 152 km2.

2.        Kependudukan
Distribusi penduduk wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo pada tahun 2007 berpenduduk 9068 jiwa yang terdiri dari laki-laki 4.350 jiwa, perempuan 4718 jiwa dengan kepala keluarga 1485 jiwa.
Di hadimulyo Timur terdiri dari 7593 penduduk yang terdiri dari laki-laki 3738 jiwa, perempuan 3855 jiwa dengan jumlah KK 1701, KK miskin 365 sedangkan di Hadimulyo Barat terdiri dari 15922 penduduk yang terdiri dari laki-laki 8309 jiwa, perempuan 7613 jiwa, dengan jumlah KK 2609, KK miskin 620.

3.        Pendidikan
Puskesmas Yosomulyo yang terletak pada Kota Madia kecamatan Metro Pusat memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang cukup baik. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya prasarana pendidikan mulai tingkat Taman Kanak-Kanak hingga SMA.

Tabel. 2     Jumlah Sarana Pendidikan Wilayah Puskesmas Yosomulyo Tahun 2007

No
Nama Desa
TK
SD
SLTP
SLTA
1.
Yosomulyo
3
4
-
-
2.
Hadimulyo Timur
2
3
-
-
3.
Hadimulyo Barat
1
3
1
2
Jumlah
6
10
1
2

Dari tabel di atas dapat dilihat sarana pendidikan di Puskesmas Yosomulyo lengkap dengan jumlah TK 6 buah, SD 10 buah, SLTP 1 buah, dan SLTA 2 buah.

4.        Kesehatan
Wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo meliputi 3 Desa dengan Puskesmas Yosomulyo, Puskesmas pembantu Hadimulyo Timur.

Tabel. 3     Jumlah Sarana dan Prasarana Kesehatan 

No
Nama Desa
Puskesmas/ Pustu
RB
BP
Posyandu
1.
Yosomulyo
Puskesmas
-
-
8
2.
Hadimulyo Timur
Pustu
-
-
9
3.
Hadimulyo Barat
-
2
1
12
Jumlah

1
1
29
(Sumber: Data Puskesmas Yosomulyo, 2008)
Dari tabel di atas dapat dilihat sarana dan prasarana kesehatan cukup lengkap dengan jumlah Puskesmas 1 buah, Pustu 1 buah, RB 2 buah, BP 1 buah, dan posyandu 29 buah.




B.     Hasil Penelitian
1.        Pelaksanaan Penelitian
a.       Persiapan
Langkah-langkah persiapan dalam rangka untuk mendapatkan data dan menguji hasil dalam penelitian ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Mempersiapkan rencana penelitian dan alat yang diperlukan dalam penelitian dengan mengajukan proposal melalui seminar.
2)      Mengkonsultasikan perbaikan proposal dan kerangka kuesioner.
3)      Memperbanyak kuesioner tanggal 26 Mei 2008
4)      Menentukan waktu untuk melaksanakan penelitian tanggal 27 Mei –      1 Juni 2008.

b.      Langkah-langkah penelitian
Setelah dilakukan persiapan penelitian maka dilakukan pelaksanaan penelitian dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Setelah menyerahkan surat izin penelitian ke Puskesmas Yosomulyo dan Kelurahan Yosomulyo kemudian penulis mengadakan penelitian yang berlangsung pada tanggal 27 Mei – 1 Juni 2008.
2)      Penetapan sampel penelitian yaitu mengambil sampel sebanyak 15% dari jumlah akseptor KB AKDR di Puskesmas Yosomulyo yaitu sebanyak 395 orang maka sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 59 orang
3)      Setelah responden dibagikan kuesioner untuk diisi dan diberikan jawaban berlangsung pada tanggal 27 Mei – 1 Juni 2008
4)      Kemudian dilakukan tabulasi dan anlisa data yang diciptakan dari hasil kuesioner tersebut.

2.        Penyajian dan Analisa Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini diperoleh melalui Dokumentasi dan kuesioner yang terdiri dari 12 pertanyaan mengenai gambaran berdasarkan lama pemakaian dan keluhan yang dialami, yang diberikan kepada 59 responden akseptor KB AKDR di Puskesmas Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat.
Berikut ini terdapat karakteristik aksetor KB AKDR berdasarkan usia, paritas, pekerjaan, pendidikan, ekonomi dan gambaran akseptor KB berdasarkan lama pemakaian dan keluhan yang dialami.
  1. Gambaran tentang Karakteristik Akseptor KB AKDR Berdasarkan Usia
Data hasil penelitian berdasarkan usia sebagai gambaran tentang karakteristik akseptor KB AKDR dari 59 responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.      Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur  di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Tahun 2008

No
Umur
 (%)
1.
Usia < 20 tahun
-
-
2.
Usia 20 – 30 tahun
13
22
3.
Usia > 30 tahun
46
78
59
100


Tabel di atas menunjukkan bahwa usia akseptor KB AKDR yang tertinggi dengan usia > 30 tahun sebanyak 46 orang (78%), yang terendah yaitu usia  20 – 30 tahun sebanyak 13 orang (22%) dan tidak ada responden usia < 20 tahun.
  1. Gambaran Tentang Karakteristik Akseoptor KB AKDR Berdasarkan Paritas
Data hasil penelitian berdasarkan paritas sebagai gambaran tentang karakteristik akseptor KB AKDR dari 59 responden dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 5.      Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Paritas di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Tahun 2008
No
Paritas
 (%)
1.
0 – 1 orang
8
13,6
2.
2 – 3 orang
39
66,1
3.
> 3 orang
12
20,3
59
100

Tabel di atas menunjukkan bahwa paritas akseptor KB AKDR yang tertinggi dengan paritas 2 – 3 sebanyak 39 orang (66,1%) dan terendah dengan paritas 0 – 1 orang 13,6%.

  1. Gambaran Tentang Karakteristik Asektor KB AKDR Berdasarkan Pekerjaan
Data hasil penelitian berdasarkan pekerjaan sebagai gambaran tentang karakteristik akseptor KB AKDR dari 59 responden dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6.      Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas Yosomulyo Tahun 2008
No
Pekerjaan
(%)
1.
PNS
28
47,5
2.
Tani
6
10,1
3.
Buruh
5
8,5
4.
Dagang
20
33,9
59
100

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar